PELAJARAN
PENTING DARI KISAH ASHABUL UKHDUD
(Asbabun
Nuzul Surat Al-Buruj)
Bismillah, Alhamdulillah wash shalaatu was salaamu ‘ala
Rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashabihi wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumil
qiyamah. Amma ba’du.
Diantara metode pendidikan Islam adalah menceritakan
kisah nyata dari orang-orang terdahulu untuk diambil pelajarannya. Dengan hal
tersebut, pelajaran bisa lebih mengena karena si pembaca bisa mengetahui
bagaimanakah kesudahan dari orang-orang yang baik ataupun orang-orang yang buruk.
Buktinya, kita akan dapatkan bahwa sekitar sepertiga Al Qur’an adalah kisah
sebagaimana keterangan Ibnu Hajar, “Isi Al Qur’an adalah tentang hukum-hukum,
berita (kisah), dan tauhid”. (Fathul Baari,9/61)
Diantara kisah dalam Al Qur’an yang sangat layak kita
ambil pelajarannya adalah kisah ashabul ukhdud, yaitu kisah
dibakarnya orang-orang yang beriman di dalam parit. Kisah ini Allah abadikan di
dalam Al Qur’an surat Al Buruj
: 1-9
وَالسَّمَاءِ
ذَاتِ الْبُرُوجِ ﴿١﴾ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ ﴿٢﴾ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ ﴿٣﴾
قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ ﴿٤﴾ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ﴿٥﴾ إِذْ هُمْ
عَلَيْهَا قُعُودٌ ﴿٦﴾ وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ ﴿٧﴾
وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
﴿۸﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
شَهِيدٌ ﴿٩﴾
“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari
yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan
terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan)
kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa
yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak
menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman
kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan
langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Buruj:
1-9
Kisah mengenai Ashabul Ukhdud diceritakan
dalam hadits yang panjang. Imam Muslim meriwayatkan
dalam kitab shahihnya dengan sanad dari Shuhaib bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘laihi wasallam bersabda : “Dahulu ada raja dari golongan umat
sebelum kalian, ia mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut dalam
usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan meminta agar
dikirimkan anak yang mewarisi ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus
padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.
Di tengah perjalanan belajar, anak ini bertemu seorang
rahib. Ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia begitu takjub
pada apa yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir
untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika ia
terlambat mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia mengadukannya pada
rahib. Rahib berkata,“Jika engkau khawatir pada tukang sihir, maka katakan
bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakan
bahwa tukang sihir telah menahanku”
Suatu ketika tibalah ia di suatu tempat dan di sana ada
seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang-orang banyak. Anak itu
berkata, “Pada hari ini saya
akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.” Ia mengambil sebuah batu seraya
berkata, “Ya Allah, apabila pelajaran dari rahib lebih Engkau cintai
daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat
melintas.” Lalu ia melempar
sesuatu kepada binatang tersebut dan binatang itu terbunuh. Lalu orang-orang dapat
melintas. Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib
mengatakan, “Wahai
anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Kamu sudah pada suatu tingkat yang
saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar,
janganlah menyebut namaku”
Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang
berpenyakit kulit. Ia dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam
penyakit. Berita ini sampai ke telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta.
Ia mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, “Ini semua jadi milikmu
asalkan engkau menyembuhkanku”. Anak
itu berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu
menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman pada Allah, aku akan berdoa
pada-Nya agar engkau bisa sembuh.” Ia
pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.
Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk
seperti biasanya. Raja bertanya padanya, “Siapa yang menyembuhkan
penglihatanmu?” Ia menjawab, “Tuhanku”. Raja kaget, “Apa engkau punya Tuhan
selain aku?” Ia menjawab, “Tuhanku
dan Tuhanmu itu sama yaitu Allah.” Raja
pun menindaknya. Ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan anak yang tadi.
Raja lalu berkata pada anak itu, “Wahai anakku, telah
sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan
berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Anak itu menjawab, “Sesungguhnya aku tidak
dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.” Raja lalu menindaknya dan terus
menyiksanya, sampai ditunjukkan pada rahib.
Raja berkata kepada rahib, “Kembalilah pada agamamu!” Rahib itu enggan. Lantas
didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah
kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. Setelah itu, sahabat dekat
raja didatangkan, ia diperintahkan hal yang sama dengan rahib, “Kembalilah pada ajaranmu!” Ia enggan. Lantas terjadilah hal
yang sama padanya sebagaimana keadaan si rahib.
Kemudian giliran anak tersebut yang didatangkan. Ia
diperintahkan hal yang sama, Ia pun enggan. Kemudian anak itu diserahkan kepada
pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah
kalian ke gunung ini dan itu. Dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian
telah sampai di puncaknya (tanyalah dirinya), apabila ia kembali pada agamanya,
bebaskan ia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” Lantas pasukan raja tersebut pergi
bersama pemuda itu lalu mendaki. Lalu anak ini berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku
dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung
lantas berguncang dan semua pasukan raja jatuh.
Anak itu kembali kepada raja. Ketika sampai, raja
berkata, “Apa yang
dilakukan teman-temanmu?” Ia
menjawab, “Allah telah
mencukupiku dari tindakan mereka.” Lalu
anak ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian dengan
sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya,
bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkan ia.”Mereka pun lantas pergi. Lalu
anak ini berdoa sama seperti sebelumnya. Tiba-tiba sampan pun terbalik, pasukan
raja tenggelam. Anak tersebut kembali mendatangi raja. Raja pun berkata, “Apa yang dilakukan
teman-temanmu?” Ia menjawab
dengan jawaban sebelumnya.
Ia berkata pada raja, “Engkau
tidak bisa membunuhku kecuali engkau memenuhi syaratku.” Raja bertanya, “Apa syaratnya?”Anak itu
menjawab, “Kumpulkanlah
rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku. Ambillah anak panah dari tempat
panahku, ucapkanlah, “Dengan nama Allah, Tuhan dari anak ini.” Lalu
panahlah aku maka pasti engkau dapat membunuhku.”
Rakyat pun dikumpulkan. Anak tersebut disalib, lalu raja
tersebut mengambil anak panah si anak kemudian diletakkan di busurnya. Lalu
mengucapkan, “Dengan
nama Allah Tuhan anak ini.” Lalu
dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipisnya, lalu ia pun mati. Rakyat
yang berkumpul tersebut berkata, “Kami
beriman pada Tuhan anak itu.”
Raja datang, lantas ada yang berkata, “Apa yang selama ini engkau
khawatirkan sepertinya benar-benar terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada
Tuhan anak tersebut.” Lalu
raja tadi membuat parit di jalan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, “Siapa yang tidak mau
kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.” Mereka pun melakukannya, sampai
ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju
ketika akan masuk di dalamnya. Bayinya lantas berkata, “Wahai ibu,
bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.” (HR. Muslim)
Diantara pelajaran berharga
11. Orang-orang
yang beriman kepada Allah pasti diuji.
Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan saja setelah mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka
tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui
orang-orang yang dusta”. (QS. Al ‘Ankabut : 2-3)
22. Tamak
dengan kekuasaan merupakan penghalang sesorang dari hidayah.
Lihatlah betapa gelapnya mata raja tersebut setelah ia
melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepalanya sendiri. Apabila dia
beriman kepada Allah, akan hilanglah kekuasaannya, sehingga dia lebih memilih
kekuasaan yang fana daripada akhirat yang kekal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah
dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing itu lebih
merusak dibandingkan ambisi seseorang kepada harta dan kekuasaan terhadap
agamanya.” (HR. Tirmidzi,
dinilai shahih oleh Al Albani)
Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan
dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah” (Fathul Bari,
13/124)
33. Tidak
boleh menyandarkan kesembuhan kepada manusia.
Anak dalam kisah tersebut menolak bahwasanya dia lah yang
menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hal itu dikarenakan perkataan tersebut
bisa merusak tauhid seseorang. Anak tersebut hanyalah perantara atau sebab.
Namun yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah lah yang berkuasa menjadikan
suatu sebab dapat berpengaruh. Allah berfirman, “Dan ingatlah (wahai ‘Isa),
ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang
berpenyakit kusta dengan seizin-Ku”. (QS. Al Maidah : 110)
44. Sihir
adalah hal yang sangat buruk.
Terbunuhnya binatang buas tersebut merupakan tanda bahwa
sihir adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah. Hal tersebut dikarenakan
orang yang mempelajari sihir, mereka harus kafir kepada Allah dan beriman
kepada setan, sehingga jatuhlah dia kepada dosa terbesar yaitu kesyirikan.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi
setan-setanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (QS Al
Baqarah : 102)
55. Semangatnya
para penyebar kesesatan.
Dalam kisah ini tukang sihir raja sangat ingin mewariskan
ilmu sihirnya (kesesatannya). Oleh karena itulah, sebagai orang yang beriman,
kita tidak boleh kalah semangat dengan para penyebar kesesatan dalam
menyebarkan kebaikan. Apalagi pahala yang dijanjikan sangatlah besar.
Rasulullah bersabda, “Demi
Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik
bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikianlah diantara pelajaran yang bisa kita petik dari
kisah tersebut. Tentu saja masih sangat banyak pelajaran yang bisa kita
dapatkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan untuk ikhlas dan
istiqomah dalam setiap amal shalih yang kita lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar