Al-Qur’an adalah kitab suci
yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw yang menjadi mukjizat dan
pedoman bagi kehidupan umat islam, seorang muslim dianggap tidak sempurna
kimanannya jika mereka tidak mau menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan
penuntun kepada jalan kebenaran, Al-Quran juga merupakan firman Allah yang
harus diikuti apa yang terkandung daidalamnya demi mendapatkan kebahagiaan
kehidupan di dunia dan diakhirat.
isi kandungan
Al-Qur’an tidak hanya berisikan tentang
perintah dan larangan saja, akan tetapi isi kandungan Al-Qur’an sangatlah luas,
di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa muatan-muatan penting yang harus kita
pelajari, seperti : Tarikh (Kisah-Kisah orang terdahulu), Aqidah, Fiqh,
Muamalah, bahkan informasi-informasi
tentang ilmu pengetahuan (sains) termuat dalam kitab suci Al-Qur’an.
Kitab suci Al-Qur’an adalah kitab suci yang sudah tidak
perlu lagi diragukan kebenaran serta keajaibannya, karena Allah sudah menjamin keaslian Al-Qur’an
sebagaiman dalam firmanNya:
الم ﴿١﴾
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لٰارَيْبَ فِيْهِ هُدًا لِلْمُتَّقِيْنَ ﴿٢﴾
Alif laam miim (1)
Ini
adalah kitab tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang
beriman (2)
(Al-Baqarah
[02]:1-2)
Dalam hal ini kami akan memberikan beberapa paparan
tentang singkronisasi antara Al-Qur’an dan sains modern untuk membuktikan apakah
informasi yang ada dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan sains itu sesuai
atau tidak. Serta memberikan pengetahuan serta wawasan bagi kita agar supaya
keimanan kita terhadap Al-Qur’an menjadi semakin bertambah. dan berikut ini
adalah paparannya.
1.
Ayat
Al-Qur’an tentang Siklus Air
Al-Qur'an memang
tidak memberi penjelasan yang rinci dan tuntas mengenai siklus air. Akan
tetapi, banyak ayat yang menjelaskan beberapa bagian dari proses keseluruhannya
secara sangat akurat dan terbukti benar ketika manusia mulai menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi. Hal ini terlihat dari dua ayat berikut :
Allah, Dialah yang
mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di
langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu
kamu Lihat hujan keluar dari celah-celahnya, Maka apabila hujan itu turun mengenai
hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira (ar-Rum :
48)
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah oleh mu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (an-Nur : 43)
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah oleh mu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (an-Nur : 43)
Kedua ayat ini menggambarkan tahapan-tahapan pembentukan
awan yang menghasilkan hujan, suatu proses yang merupakan salah satu tahap
dalam siklus air. Dengan mencermati dua ayat diatas, kita akan mendapatkan dua
buah fenomena sekaligus, yaitu penyebaran awan dan penyatuan awan. Dua proses
yang berlawanan ini terjadi sehingga awan hujan dapat terbentuk. Dua proses
yang disebutkan dalam Al-Qur'an ini baru ditemukan oleh ilmu metereologi moder
sekitar 200 tahun yang lalu.
Ada dua tipe awan
yang dapat menghasilkan hujan. Keduanya diklasifikasikan berdasarkan bentuknya,
yaitu stratus (tipe berlapis) dan cumulus (tipe menumpuk). Surah ar-Rum ayat 48
diatas secara jelas memberikan informasi tentang awan berlapis itu. Tipe awan
seperti ini hanya akan terbentuk jika angin bertiup secara bertahap dan
perlahan mendorong awan ke atas. Lalu awan tersebut akan berbentuk seperti
lapisan-lapisan yang melebar, inilah maksud kalimat "Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan
awan dan Allah membentangkannya di langit".
Adapun tipe awan berikutnya adalah tipe awan bertumpuk. Awan ini berdasarkan bentuknya terbagi kedalam beberapa kategori, yaitu cumulus, cumulonimbus, dan stratosumulus. Awan tipe ini mudah dikenali, yaitu terlihat ddari bentuknya yang saling bertumpuk dan bergumpal. Tidak seperti awancumulus, cumulonimbus yang bergumpal padat, awan stratosumulus bersifat melebar dan bergumpal tipis. Hal ini sebagaimana yang tersebut dalam surah an-Nur : 43 diatas.
Awan tipe ini dibentuk oleh angin keras yang mengarah ke atas dan ke bawah mendorong awan dengan kuat. Gumpalan-gumpalan awan yang terbentuk akan saling menyatu, saling bertumpuk dan menjadi gumpalan awan raksasa. Pada fase inilah awan cumulus dan cumulonimbus dapat menghasilkan hujan.
Kalimat berikutnya dari ayat ini agaknya secara khusus menggambarkan terjadinya cumulonimbus awan yang biasa dikenal sebagai awan badai. Dilihat dari bawah, tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas ini tampak serupa dengan gunung. Akibat posisinya yang sangat tinggi, butir-butir air yang terbentuk akan berubah menjadi butiran es (lihat teks ayat diatas). Awan cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan, yaitu petir atau halilintar.
Adapun tipe awan berikutnya adalah tipe awan bertumpuk. Awan ini berdasarkan bentuknya terbagi kedalam beberapa kategori, yaitu cumulus, cumulonimbus, dan stratosumulus. Awan tipe ini mudah dikenali, yaitu terlihat ddari bentuknya yang saling bertumpuk dan bergumpal. Tidak seperti awancumulus, cumulonimbus yang bergumpal padat, awan stratosumulus bersifat melebar dan bergumpal tipis. Hal ini sebagaimana yang tersebut dalam surah an-Nur : 43 diatas.
Awan tipe ini dibentuk oleh angin keras yang mengarah ke atas dan ke bawah mendorong awan dengan kuat. Gumpalan-gumpalan awan yang terbentuk akan saling menyatu, saling bertumpuk dan menjadi gumpalan awan raksasa. Pada fase inilah awan cumulus dan cumulonimbus dapat menghasilkan hujan.
Kalimat berikutnya dari ayat ini agaknya secara khusus menggambarkan terjadinya cumulonimbus awan yang biasa dikenal sebagai awan badai. Dilihat dari bawah, tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas ini tampak serupa dengan gunung. Akibat posisinya yang sangat tinggi, butir-butir air yang terbentuk akan berubah menjadi butiran es (lihat teks ayat diatas). Awan cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat mengagumkan, yaitu petir atau halilintar.
Selain dua ayat diatas, masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur'an yang
membicarakan mengenai hujan ini, seperti pada surah Ghafir : 13, al-mu'minun :
18, al-furqan ; 48, al-'Ankabut ; 63. Semua ayat ini menjelaskan tentang siklus
air yang tidak jauh berbeda dengan penjelasan yang dikemukakan oleh ayat
diatas.
2. Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama
Lain
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru
ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya
kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh
masing-masing.” (QS. Ar Rahman:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak
bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru
ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari
laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa
jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah
terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr.
1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley
Publishing, s. 92-93.)
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang
di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik
melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di
kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan
keduanya.
3. Fungsi Gunung
“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung
yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka...” (QS. Al Anbiya:31)
Sebagaimana
terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah
goncangan di permukaan bumi. Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di
masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai
hasil penemuan geologi modern. Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul
sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang
membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih
kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat
dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah
permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung
mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan
yang tampak di permukaan bumi.
Dalam
tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut: Pada bagian benua
yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam
lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets,
Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts,
1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini
diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai “pasak”:
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai
hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An Naba’:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam
lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan
bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini,
mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas
lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan
gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam
tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi
bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi.
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu
geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an
berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
4. Dasar Lautan Yang Gelap
Manusia tidak mampu menyelam di laut dengan
kedalaman di bawah 40 meter tanpa peralatan khusus. Dalam sebuah buku berjudul
Oceans juga dijelaskan, pada kedalaman 200 meter hamper tidak dijumpai cahaya,
sedangkan pada kedalaman 1000 meter tidak terdapat cahaya sama
sekali.
Kondisi dasar laut yang gelap baru bisa
diketahui setelah penemuan teknologi canggih. Namun Alquran telah menjelaskan
keadaan dasar lautan semenjak ribuan tahun lalu sebelum teknologi itu
ditemukan. Alquran surat An Nur ayat 40 menjelaskan mengenai fakta ilmiah ini.
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi
oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita
yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat
melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah
tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (QS An Nuur: 40).
5. Sungai di Bawah Laut
“Akan Kami perlihatkan secepatnya kepada mereka kelak, bukti-bukti
kebenaran Kami di segenap penjuru dunia ini dan pada diri mereka sendiri,
sampai terang kepada mereka, bahwa al-Quran ini suatu kebenaran. Belumkah cukup
bahwa Tuhan engkau itu menyaksikan segala sesuatu. ” (QS Fushshilat : 53)
“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ;
yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan
antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika
Kita termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal
Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka
dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke
perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang
keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.
Pada
suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia
menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana
tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya,
seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena
ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab
terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai
berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam.
Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung
mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai
pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun
menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran
tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering
diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini
yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua
lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.”
Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain
itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak
bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi
pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir
itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang
berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya
mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah
Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat
keajaiban yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil
disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada
peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di
kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil
14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata
bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang
seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Itulah
beberapa hal yang menakjubkan dari kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang harus
kita renungkan dan bisa kita ambil pelajaran, semua yang di ciptakan oleh Allah
di alam semesta ini adalah sebagai tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah
agar kita dapat merenungkan kejadian-kejadian di alam semesta ini sebagai
pelajaran penting bagi umat manusia.
Semua
yang kami jelaskan diatas merupakan sebagian kecil dari bukti keajaiban
Al-Qur’an,, masih banyak lagi bukti kebenaran Al-Qur’an yang belum kami kaji
seperti proses diciptakannya manusia didalam rahim ibunya, manfaat air hujan
untuk kehidupan di bumi, dan masih banyak lagi
bukti-bukti kebenaran dari keagungan Al-Quran yang belum kami kaji.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan wawasan bagi kita tentang pentingnya
memahami ayat-ayat yang terdapat dialam semesta ini (ayat kauniyah) sebagai
renungan bagi kita bahwa kita adalah makhluk Allah yang sangat kecil, hina, dan
lemah. Dan hanya Allahlah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Wallahu
A’lam Bishowab !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar