Keutamaan Istighfar dan Taubat Kepada Allah Swt
Para Ulama’ Sepakat bahwa taubat dari segala
perbuatan dosa adalah wajib bagi setiap muslim, adapun syarat-syarat agar
diterimanya taubat antara lain :
1. menghentikan perbuatan dosa itu sendiri
2. Menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan
3. berketetapan hati untuk tidak mengulangi lagi
perbuatan dosa untuk selama-lamanya
4. Apabila ada hubungannya dengan sesama manusia, maka ia
harus menyelesaikan urusannya itu kepada yang bersangkutan. (Kitab
Riyadhusshalihin Jilid 2, Bab Taubat).
Diantara keutamaan bertaubat dari dosa adalah, selain
dosa kita dapat terampuni, maka Allah juga akan membukakan pintu rizqi bagi
kita jika kita mau memperbanayak beristighfar dan memohon ampun kepada Allah
Swt.
Hal ini sebagaimana kisah yang diriwayat kan oleh
Imam Al-Qurthubi, Ia menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :"Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!".
Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan :"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. {Tafsir Al-Khazin, 7/154. Lihat pula, Ruhul Ma'ani, 29/73}. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.
Imam Al-Qurthubi, Ia menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata :"Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Yang lain lagi berkata kepadanya, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!. Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya, 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!".
Dan kami menganjurkan demikian kepada orang yang mengalami hal yang sama. Dalam riwayat lain disebutkan :"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar. {Tafsir Al-Khazin, 7/154. Lihat pula, Ruhul Ma'ani, 29/73}. Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ
كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾وَيُمْدِدْكُمْ
بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai". (Nuh /71: 10-12) {lihat Tafsir Al-Qurthubi, 18/302-303. Lihat pula Al-Muharrar Al-Wajiz, 16/123}
Adapun dalil dari Sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” {HR. Abu Daud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 6421 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 10665}
Ikhwani Rahimakumullah
Untuk itu marilah kita bertaubat kepada Allah sesegera
mungkin kita bisa bertaubat, janganlah kita bertaubat itu menunggu sampai kita
berdosa dulu baru kita bertaubat, karena Nabi ﷺ mengucapkan istighfar (bertaubat kepada Allah) sebanyak 100 kali
dalam tiap harinya hal ini sebgaimana hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam
muslim sebagai berikut.
وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي اللهُ عَنْهُ قَالَ :
سَمِعْةُ رَسُوْلَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ : وَا اللهِ اِنِّيْ لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَ
اَتُوْبُ اِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ اَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً (رواه
البخاريُّ)
Dari abu hurairah r.a ia berkata:Rasulullah
Saw bersabda : demi Allah saya membaca istighfar dan bertaubat kepada Allah lebih
dari 70 kali setiap harinya. (HR. Bukhari)
Dalam riwayat Muslim dijelaskan :
عَنْ اَلْاَغَرِّبْنِ يَسَارٍ اَلْمُزَنِّيْ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ يَاَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُ اِلَى
اللهِ وَ اَسْتَغْفِرُوْهُ فَاِنِّيْ اَتُوْبُ فِى الْيَوْمِ مِاءَةُ مَرَّةٍ (رواه
مسلم)
Dari Al Aghar bin Yasar Al Muzanny r.a berkata
Rasulullah Saw bersabda : wahai sekalian manusia bertaubatlah kamu sekalian kepada
Allah mohonlah ampun kepadaNya karena sesungguhnya saya bertaubat 100 kali
setiap harinya (HR. Muslim)
Ikhwani rahimakumullah...
Rasulullah saja, yang makruf (terpelihara dari dosa),
yang dijamin masuk surga masih tetap mau meluangkan waktunya dari beristighfar
dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa, apalagi kita sebagai orang
yang awam, orang yang penuh dengan glimang dosa ini, apakah kita sanggup untuk
beristighfar sebagaimana yang disampaikan dalam hadits diatas?, ataukah kita
sudah merasa menjadi orang yang sholeh sehingga kita tidak perlu lagi
beristighfaf dan bertaubat kepada Allah?
Ikhwani rahimakumullah...
Semua itu adalah menjadi sebuah renungan bagi diri kita bersama
bahwa bertaubat kepada Allah adalah sebuah hal yang wajib kita lakukan kapanpun
dan dimanapun kita berada. Kita bukanlah Rasulullah yang mampu beristighfar
sampai 100 kali dalam sehari, tapi minimal kita mampu untuk beristighfar kepada
Allah dalam setiap dzikir-dzikir yang kita baca sesudah shalat.
Demikian apa yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan
artikel ini dapat menjadi renungan bagi kita untuk senantiasa bertaubat kepada
Allah Swt, janganlah kita menunggu-nuggu bertaubat kepada Allah, jangan
menunggu sampai tua, jangan menunggu sampai banyak dosa dan jangan menunggu
sampai ajal tiba. Untuk itu segeralah bertaubat kepada Allah sesegera mungkin
karena kita tidak tahu sampai kapankah hidup kita akan berakhir didunia ini.