OPINI

Selasa, 08 Agustus 2017

PELAJARAN PENTING DARI KISAH ASHABUL UKHDUD
(Asbabun Nuzul Surat Al-Buruj)

Bismillah, Alhamdulillah wash shalaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashabihi wa man tabi’ahum bi ihsan ilaa yaumil qiyamah. Amma ba’du.
Diantara metode pendidikan Islam adalah menceritakan kisah nyata dari orang-orang terdahulu untuk diambil pelajarannya. Dengan hal tersebut, pelajaran bisa lebih mengena karena si pembaca bisa mengetahui bagaimanakah kesudahan dari orang-orang yang baik ataupun orang-orang yang buruk. Buktinya, kita akan dapatkan bahwa sekitar sepertiga Al Qur’an adalah kisah sebagaimana keterangan Ibnu Hajar, “Isi Al Qur’an adalah tentang hukum-hukum, berita (kisah), dan tauhid”. (Fathul Baari,9/61)
Diantara kisah dalam Al Qur’an yang sangat layak kita ambil pelajarannya adalah kisah ashabul ukhdud, yaitu kisah dibakarnya orang-orang yang beriman di dalam parit. Kisah ini Allah abadikan di dalam Al Qur’an surat Al Buruj : 1-9
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ ﴿١﴾ وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ ﴿٢﴾ وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ ﴿٣﴾ قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ ﴿٤﴾ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ﴿٥﴾ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ ﴿٦﴾ وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ ﴿٧﴾ وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ﴿۸﴾ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿٩﴾
Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al Buruj: 1-9
Kisah mengenai Ashabul Ukhdud diceritakan dalam hadits yang panjang. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dengan sanad dari Shuhaib bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘laihi wasallam bersabda : “Dahulu ada raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan meminta agar dikirimkan anak yang mewarisi ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya.
Di tengah perjalanan belajar, anak ini bertemu seorang rahib. Ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia begitu takjub pada apa yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika ia terlambat mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia mengadukannya pada rahib. Rahib berkata,“Jika engkau khawatir pada tukang sihir, maka katakan bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakan bahwa tukang sihir telah menahanku”
Suatu ketika tibalah ia di suatu tempat dan di sana ada seekor binatang besar yang menghalangi jalan orang-orang banyak. Anak itu berkata, “Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.” Ia mengambil sebuah batu seraya berkata, “Ya Allah, apabila pelajaran dari rahib lebih Engkau cintai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melintas.” Lalu ia melempar sesuatu kepada binatang tersebut dan binatang itu terbunuh. Lalu orang-orang dapat melintas.  Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib mengatakan, “Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Kamu sudah pada suatu tingkat yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar, janganlah menyebut namaku”
Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini sampai ke telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, “Ini semua jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku”. Anak itu berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman pada Allah, aku akan berdoa pada-Nya agar engkau bisa sembuh.” Ia pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.
Sahabat raja tadi kemudian mendatangi raja dan ia duduk seperti biasanya. Raja bertanya padanya, “Siapa yang menyembuhkan penglihatanmu?” Ia menjawab, “Tuhanku”. Raja kaget, “Apa engkau punya Tuhan selain aku?” Ia menjawab, “Tuhanku dan Tuhanmu itu sama yaitu Allah.” Raja pun menindaknya. Ia terus menyiksanya sampai ditunjukkan anak yang tadi.
Raja lalu berkata pada anak itu, “Wahai anakku, telah sampai padaku berita mengenai sihirmu yang bisa menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kulit, serta engkau dapat melakukan ini dan itu.” Anak itu menjawab, “Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan adalah Allah.” Raja lalu menindaknya dan terus menyiksanya, sampai ditunjukkan pada rahib.
Raja berkata kepada rahib, “Kembalilah pada agamamu!” Rahib itu enggan. Lantas didatangkanlah gergaji dan diletakkan di tengah kepalanya. Lalu dibelahlah kepalanya dan terjatuhlah belahan kepala tersebut. Setelah itu, sahabat dekat raja didatangkan, ia diperintahkan hal yang sama dengan rahib, “Kembalilah pada ajaranmu!” Ia enggan. Lantas terjadilah hal yang sama padanya sebagaimana keadaan si rahib.
Kemudian giliran anak tersebut yang didatangkan. Ia diperintahkan hal yang sama, Ia pun enggan. Kemudian anak itu diserahkan kepada pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian ke gunung ini dan itu. Dakilah gunung tersebut bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya (tanyalah dirinya), apabila ia kembali pada agamanya, bebaskan ia. Jika tidak, lemparkanlah ia dari gunung tersebut.” Lantas pasukan raja tersebut pergi bersama pemuda itu lalu mendaki. Lalu anak ini berdoa, “Ya Allah, lindungilah aku dari tindakan mereka dengan kehendak-Mu.” Gunung lantas berguncang dan semua pasukan raja jatuh.
Anak itu kembali kepada raja. Ketika sampai, raja berkata, “Apa yang dilakukan teman-temanmu?” Ia menjawab, “Allah telah mencukupiku dari tindakan mereka.” Lalu anak ini dibawa lagi bersama pasukan raja. Raja berkata, “Pergilah kalian dengan sebuah sampan menuju tengah lautan. Jika ia mau kembali pada ajarannya, bebaskan dia. Jika tidak, tenggelamkan ia.”Mereka pun lantas pergi. Lalu anak ini berdoa sama seperti sebelumnya. Tiba-tiba sampan pun terbalik, pasukan raja tenggelam. Anak tersebut kembali mendatangi raja. Raja pun berkata, “Apa yang dilakukan teman-temanmu?” Ia menjawab dengan jawaban sebelumnya.
Ia berkata pada raja, “Engkau tidak bisa membunuhku kecuali engkau memenuhi syaratku.” Raja bertanya, “Apa syaratnya?”Anak itu menjawab, “Kumpulkanlah rakyatmu di suatu bukit. Lalu saliblah aku. Ambillah anak panah dari tempat panahku, ucapkanlah, “Dengan nama Allah, Tuhan dari anak ini.” Lalu panahlah aku maka pasti engkau dapat membunuhku.”
Rakyat pun dikumpulkan. Anak tersebut disalib, lalu raja tersebut mengambil anak panah si anak kemudian diletakkan di busurnya. Lalu mengucapkan, Dengan nama Allah Tuhan anak ini. Lalu dilepaslah dan panah tersebut mengenai pelipisnya, lalu ia pun mati. Rakyat yang berkumpul tersebut berkata, “Kami beriman pada Tuhan anak itu.”
Raja datang, lantas ada yang berkata, “Apa yang selama ini engkau khawatirkan sepertinya benar-benar terjadi. Manusia saat ini telah beriman pada Tuhan anak tersebut.” Lalu raja tadi membuat parit di jalan lalu dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata, “Siapa yang tidak mau kembali pada ajarannya, maka lemparkanlah ia ke dalamnya.” Mereka pun melakukannya, sampai ada seorang wanita bersama bayinya. Wanita ini pun begitu tidak berani maju ketika akan masuk di dalamnya. Bayinya lantas berkata, “Wahai ibu, bersabarlah karena engkau di atas kebenaran.” (HR. Muslim)
Diantara pelajaran berharga
11. Orang-orang yang beriman kepada Allah pasti diuji.
Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja setelah mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al ‘Ankabut : 2-3)
22. Tamak dengan kekuasaan merupakan penghalang sesorang dari hidayah.
Lihatlah betapa gelapnya mata raja tersebut setelah ia melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dengan mata kepalanya sendiri. Apabila dia beriman kepada Allah, akan hilanglah kekuasaannya, sehingga dia lebih memilih kekuasaan yang fana daripada akhirat yang kekal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah sekawanan kambing itu lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang kepada harta dan kekuasaan terhadap agamanya.” (HR. Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al Albani)
Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah” (Fathul Bari, 13/124)
33.  Tidak boleh menyandarkan kesembuhan kepada manusia.
Anak dalam kisah tersebut menolak bahwasanya dia lah yang menyembuhkan berbagai macam penyakit. Hal itu dikarenakan perkataan tersebut bisa merusak tauhid seseorang. Anak tersebut hanyalah perantara atau sebab. Namun yang terpenting adalah meyakini bahwa Allah lah yang berkuasa menjadikan suatu sebab dapat berpengaruh. Allah berfirman, “Dan ingatlah (wahai ‘Isa), ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku”. (QS. Al Maidah : 110)
44. Sihir adalah hal yang sangat buruk.
Terbunuhnya binatang buas tersebut merupakan tanda bahwa sihir adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah. Hal tersebut dikarenakan orang yang mempelajari sihir, mereka harus kafir kepada Allah dan beriman kepada setan, sehingga jatuhlah dia kepada dosa terbesar yaitu kesyirikan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Sulaiman tidaklah kafir, akan tetapi setan-setanlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia” (QS Al Baqarah : 102)
55. Semangatnya para penyebar kesesatan.
Dalam kisah ini tukang sihir raja sangat ingin mewariskan ilmu sihirnya (kesesatannya). Oleh karena itulah, sebagai orang yang beriman, kita tidak boleh kalah semangat dengan para penyebar kesesatan dalam menyebarkan kebaikan. Apalagi pahala yang dijanjikan sangatlah besar. Rasulullah bersabda, “Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikianlah diantara pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tersebut. Tentu saja masih sangat banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan untuk ikhlas dan istiqomah dalam setiap amal shalih yang kita lakukan.


Senin, 07 Agustus 2017

MENELADANI NASIHAT LUQMAN KEPADA ANAKNYA
(Kajian Tafsir Surat Luqman: 13-19)
Oleh : Akhmad Syauqi, S.Pd.I


Agama islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala macam urusan yang berkaitan dengan manusia dan alam semesta, islam mengatur segala urusan mulai dari hal yang terkecil hingga kepada hal-hal yang terbesar, misalkan saja berkaitan dengan adab makan dan minum, dalam hal makan dan minum saja kita dianjurkan untuk memperhatikan beberapa aturan, misalnya : memulai makan dengan basmalah, makan dan minum menggunakan tangan kanan, makan sambil duduk, mengakhiri dengan hamdalah dan lain sebagainya. Itu semua adalah merupakan suatu bukti bahwa islam itu adalah agama yang sempurna dan memiliki nilai yang sangat tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits,
الْاِسْلَامُ يَعْلُ وَ لَا يُعْلَ عَلَيْهِ
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya (Adh Daruquthni)”
Dalam sebuah ayat Allah juga menjelaskan :
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللَّهِ الاِسْلَامِ (ال عمرن: ١٩) 
“sesungguhnya agama yang diridhoi disisi Allah adalah agama islam (Ali Imron: 19)”
Begitulah gambaran singkat tentang betapa sangat tingginya nlai-nilai yang terkandung dalam agama ini, oleh karena itu kita harus banggga dan bersyukur karena sampai saat ini kita masih ditakdirkan oleh Allah Swt untuk memeluk agama yang hanif dan tetap teguh berada diatas jalan yang lurus yang menuntun kita menuju surga Allah yang penuh dengan kenikmatan.
Diantara salah satu tanda tingginya nilai islam adalah tentang “Nilai-nilai Akhlak”, pendidikan akhlaq sangat penting bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari, karena tanpa akhlaq, maka seseorang tidak akan bisa diterima di lingkungan masyarakat dikarenakan seseorang tersebut memiliki perangai yang sangat buruk.
Jika seseorang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik, pasti keberadaannya dimasyarakat akan disenangi, disegani bahkan dihormati. Karena nilai akhlak inilah yang menjadikan makhluk Allah yang bernama manusia ini menjadi berkualitas dan beradab, manusia diciptakan Allah dengan kemampuan akal fikiran dan hati yang apabila kedua kemampuan akal fikiran dan hati ini jika disatukan akan menciptakan sebuah akhlak yang baik. Hal inilah yang menjadikan manusia itu mulia dari pada makhluk ciptaan Allah yang lain.
Melihat semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi pada saat ini, maka semakin banyak pula peluang-peluang kemaksiatan yang akan merusak akhlaq para generasi penerus kita, apabila hal ini tidak diimbangi dengan perkembangan akhlaq karimah (Akhlaq yang baik) maka yang terjadi adalah kemerosotan di bidang akhlaq dan moral.
Apabila sebaliknya jika ilmu pengetahuan dan teknologi diimbangi dengan perkembangan dibidang akhlaq maka yang terjadi adalah ilmu pengetahuan yang berkembang ini akan menjadi bermanfaat dan berguna bagi orang lain.
Dengan demikian sudah menjadi tugas seorang guru dan orang tua khususnya untuk selalu memberikan pendidikan-pendidikan akhlaq kepada para generasi penerus agar kelak dimasa yang akan datang menjadi insan yang mulia yang dapat dibanggakan bangsa dan agama, serta mampu menghadapi tantangan hidup yang semakin lama semakin memprihatinkan.
Begitu sangat pentingnya sumbangsih pendidikan akhlaq terhadap kemajuan agama dan bangsa maka merilah bersama kita simak sebuah figur keteladanan yang termaktub dalam Al-Quran, sebuah tokoh yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an dan seorang ayah yang bijaksana dalam mendidik anak. Ia adalah Luqman Al-Hakim, Beliau adalah merupakan figur yang sangat sederhana, dia bukan berasal dari kalangan Nabi dan Rasul sehingga namanya dimasukkan dalam Nama sebuah surat dalam Al-Qur’an, akan tetapi berkat sifat kebijaksanaan yang dia miliki sehingga Allah memasukkan namanya kedalam sebuah nama surat dalam Al-Qur’an.
a.    Biografi Luqman Al-Hakima
Luqman Al-Hakim adalah anak dari Bau’ra bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar ayah Nabi Ibrahim a.s. Luqman Al-Hakim hidup selama 1000 tahun. Ia meupakan guru dari Nabi Daud a.s. sebelum diangkat menjadi Nabi. Pekerjaan awalnya adalah tukang kayu, tukang jahit, dan penggembala domba. Ia kemudian diangkat menjadi qadhi (Hakim). Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semua anaknya meninggal dunia ketika masih kecil. Semua itu ia terima dengan ikhlas, karena ia yakin dan sadar bahwa semua yang terjadi adalah atas kehemndak Allah Swt.
Demikian biografi singkat tentang Luqman Al-Hakim yang namanya dimuliakan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Qur’an yakni Surat Luqman surat ke 31.
b.    Nasihat Luqman kepada Anaknya
Keteladanan orang tua sangat berpengaruh penting bagi pendidikan akhlaq, seorang anak yang masih kecil pasti akan meniru kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya, oleh karena itu seorang figur Luqman Al-Hakim hadir sebagai tokoh tauladan bagi para orang tua dan para pendidik untuk dapat meneladani dan mengambil pelajaran dari Nasihat-Nasihat Luqman Al-Hakim yang diberikan kepada anaknya.
Berikut adalah beberapa wejangan yang diberikan Luqman Al-Hakim kepada Anaknya sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an dalam Surat Luqman:13-19
1.    Mengajari anak tentang Ketauhidan dan Menjauhi Dosa Syirik.
وَاِذْقَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يٰبُنَيَّ لَاتُشْرِكْ بِااللهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ﴿١۳﴾
            “Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (Luqman: 13)".
Allah mengingatkan kepada Rasulullah nasihat yang pernah diberikan Luqman kepada putranya ketika ia memberi pelajaran kepadanya. Nasihat itu ialah “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kedzaliman yang sangat besar”.
Mempersekutukan Allah dikatakan kedzaliman yang sangat besar karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang melimpahkan nikmat dan karunia dengan sesuatu yang tidak sanggup memberikan semua itu. Menyamkan Allah sebagai sumber nikmat dan karunia dengan patung-patung yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah perbuatan dzalim. Perbuatan itu dianggap sebagai kedzaliman yang besar karena yang disamakan dengan makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa itu adalah Allah Pencipta dan Penguasa  semesta alam, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada-Nya.
Dalam ayat ini dipahami bahwa diantara kewajiban ayah kepada anaknya ialah member nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya dapat menempuh jalan yang benar, dan terhindar dari kesesatan. Hal in sesuai dengan firman Allah Swt.
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْاَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ﴿٦﴾
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;” (At-Tahrim:6)
2.    Berbuat baik kepada Orang Tua dan Memperlakukannya dengan Baik
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهُ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ شْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ﴿١٤﴾
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)”

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ﴿١٥﴾
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. (Luqman: 15)”

Dalam ayat, ini Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha melaksanakan perintah-perintahnya dan mewujudkan keinginannya. Allah juga memerintahkan yang demikian, dalam firmannya

 وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّاتَعْبُدُوْا اِلَّا اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا﴿٢٣﴾
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra’: 23)”

3.    Memberi Pemahaman Bahwa Segala Amalan Manusia akan Di Pertanggug Jawabkan Diakhirat
يٰبُنَيَّ اِنَّهَا اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ صَخْرَةٍ اَوْفِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُۗ اِنَّ اللهَ لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ﴿١٦﴾
“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui. (Luqman: 16)”
Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang kita kerjakan selama di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, sekecil apapun amalan yang kita lakukan baik itu merupakan amalan yang baik maupun amalan yang buruk, pasti akan mendapatkan balasannya, hal ini senada dengan firman Allah swt dalam QS. Al-Zalzalah: 7-8
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْىرًا يَّرَهُ ﴿٧﴾ وَمَنْ يعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّايَّرَهُ ﴿۸﴾
 Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah: 7-8)”
Luqman berwasiat kepada anaknya agar beramal dengan baik karena apa yang dilakukan manusia dari yang besar sampai yang sekecil-kecilnnya, yang tampak dan yang tidak tampak, yang terlihat dan yang tidak tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti diketahui Allah. Oleh karena itu, Allah pasti akan meberikan balasan yang setimpal dengan perbuatan manusia itu. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga, sedang perbuatan jahat dan dosa akan dibalas dengan neraka. Pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu dan tidak ada yang luput sedikitpun dari pengetahuan-Nya.
4.    Mengajarkan Tentang Shalat dan Amar Ma’uf Nahi Munkar
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الضَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَا اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْعُمُوْرِ ﴿١٧﴾
Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqman: 17)
Pada ayat ini Luqman mewasiatkan kepada anaknya hal-hal berikut:
a)    Selalu mendirikan shalat dengan sebaik-baiknya, sehingga diridhai Allah.
Jika shalat yang dikerjakan itu diridhai Allah, perbuatan keji dan perbuatan mungkar dapat dicegah, jiwa menjadi bersih tidak ada kekhawatiran terhadap diri orang itu, dan mereka tidak akan bersedih hati jika ditimpa cobaan, dan merasa dirinya semakin dekat dengan Tuhannya.
اُعْبُدُوا اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ تَرَكَ. (رواه البخاري و مسلم)
Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau (HR. Bukhori dan Muslim).
b)    Berusaha mengajak manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah, berusaha membersihkan jiwa dan mencapai keberuntungan, serta mencegah mereka agar tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Allah berfirman.
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰهَاۖ﴿٩﴾ وَقَدْخَابَ مَنْ دّسّٰهَاۗ﴿١٠﴾
“Sesungguhnya beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (asy-Syams: 9-10)
c)    Selalu bersabar dan tabah terhadap segala macam cobaan yang menimpa, akibat dari mengajak manusia berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, baik cobaan itu dalam bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam bentuk kesengsaraan dan penderitaan.

5.    Mengajarkan tentang perilaku rendah hati dan tidak sombong, serta sedehana dalam berjalan dan tidak mengeraskan suara
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللهَ لَايُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ﴿١۸﴾

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman: 18)”
وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَالْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِۚ ﴿١٩﴾
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman: 19)
Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Luqman kepada anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, dengan cara:
1.    Jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, membanggakan diri dan memandang rendah orang lain. Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong adalah:
Ø  Bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah.
Ø  Berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan ia yang berkuasa dan yang paling terhormat. Firman Allah:
وَلَاتَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (Al-Isra’: 37).”
2.    Hendaklah berjalan secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, dan lemah lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa senang dan tenteram hatinya.
Berbicara dengan sikap keras, angkuh dan sombong dilarang Allah karena gaya bicara yang semacamnya itu tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga. Hal itu diibaratkan Allah dengan suara keledai yang tidak nyaman didengar.
Demikanlah beberapa nasihat-nasihat penting Luqman Al-Hakim yang diajarkan kepada anaknya,  seorang ayah yang sangat peduli terhadap nasib anaknya tidak hanya memperhatikan nasib anaknya didunia saja akan tetapi dia juga sangat peduli terhadap nasib anaknya diakhirat, seorang ayah yang sangat peduli terhadapa kehidupan anaknya di masa yang akan datang, yang nantinya anak ini akan tumbuh menjadi manusia yang beradab, mengetahui mana perkara yang haq dan mana perkara yang bathil, serta sanggup mengemban amanah Allah sebagai Khalifah Fil Ardh untuk menjaga kehidupan dunia dari keburukan-keburukan sifat tercela.
Mudah-mudahan hal ini dapat mejadi contoh bagi kita semua khususnya bari para orang tua yang menginginkan anak yang sholeh, untuk senantiasa memperhatikan pendidikan anaknya dalam bidang akhlaqul karimah.