MENELADANI
NASIHAT LUQMAN KEPADA ANAKNYA
(Kajian
Tafsir Surat Luqman: 13-19)
Oleh : Akhmad Syauqi,
S.Pd.I
Agama islam adalah agama
yang sempurna yang mengatur segala macam urusan yang berkaitan dengan manusia
dan alam semesta, islam mengatur segala urusan mulai dari hal yang terkecil hingga kepada hal-hal yang terbesar, misalkan
saja berkaitan dengan adab makan dan minum, dalam hal makan dan minum saja kita
dianjurkan untuk memperhatikan beberapa aturan, misalnya : memulai makan dengan basmalah,
makan dan minum menggunakan tangan kanan, makan sambil duduk, mengakhiri dengan
hamdalah dan lain sebagainya. Itu semua adalah merupakan suatu bukti bahwa
islam itu adalah agama yang sempurna dan memiliki nilai yang sangat tinggi
sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits,
الْاِسْلَامُ
يَعْلُ وَ لَا يُعْلَ عَلَيْهِ
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang
lebih tinggi dari padanya (Adh Daruquthni)”
Dalam sebuah ayat Allah juga menjelaskan :
إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللَّهِ الاِسْلَامِ (ال عمرن: ١٩)
“sesungguhnya agama yang diridhoi
disisi Allah adalah agama islam (Ali Imron:
19)”
Begitulah gambaran singkat tentang betapa sangat tingginya nlai-nilai yang
terkandung dalam agama ini, oleh karena itu kita harus banggga dan bersyukur
karena sampai saat ini kita masih ditakdirkan oleh Allah Swt untuk memeluk
agama yang hanif dan tetap teguh berada diatas jalan yang lurus yang menuntun
kita menuju surga Allah yang penuh dengan kenikmatan.
Diantara salah satu tanda tingginya nilai islam adalah tentang “Nilai-nilai
Akhlak”, pendidikan akhlaq sangat penting bagi kita dalam menjalani
kehidupan sehari-hari, karena tanpa akhlaq, maka seseorang tidak akan bisa
diterima di lingkungan masyarakat dikarenakan seseorang tersebut memiliki
perangai yang sangat buruk.
Jika seseorang memiliki
akhlak dan budi pekerti yang baik, pasti keberadaannya dimasyarakat akan
disenangi, disegani bahkan dihormati. Karena nilai akhlak inilah yang
menjadikan makhluk Allah yang bernama manusia ini menjadi berkualitas dan
beradab, manusia diciptakan Allah dengan kemampuan akal fikiran dan hati yang
apabila kedua kemampuan akal fikiran dan hati ini jika disatukan akan
menciptakan sebuah akhlak yang baik. Hal inilah yang menjadikan manusia itu
mulia dari pada makhluk ciptaan Allah yang lain.
Melihat semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
terjadi pada saat ini, maka semakin banyak pula peluang-peluang kemaksiatan yang
akan merusak akhlaq para generasi penerus kita, apabila hal ini tidak diimbangi
dengan perkembangan akhlaq karimah (Akhlaq yang baik) maka yang terjadi adalah
kemerosotan di bidang akhlaq dan moral.
Apabila sebaliknya jika ilmu pengetahuan dan teknologi diimbangi dengan
perkembangan dibidang akhlaq maka yang terjadi adalah ilmu pengetahuan yang
berkembang ini akan menjadi bermanfaat dan berguna bagi orang lain.
Dengan demikian sudah menjadi tugas seorang guru dan orang tua khususnya
untuk selalu memberikan pendidikan-pendidikan akhlaq kepada para generasi
penerus agar kelak dimasa yang akan datang menjadi insan yang mulia yang dapat
dibanggakan bangsa dan agama, serta mampu menghadapi tantangan hidup yang
semakin lama semakin memprihatinkan.
Begitu sangat pentingnya sumbangsih pendidikan akhlaq terhadap kemajuan
agama dan bangsa maka merilah bersama kita simak sebuah figur keteladanan yang
termaktub dalam Al-Quran, sebuah tokoh yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an
dan seorang ayah yang bijaksana dalam mendidik anak. Ia adalah Luqman Al-Hakim,
Beliau adalah merupakan figur yang sangat sederhana, dia bukan berasal dari
kalangan Nabi dan Rasul sehingga namanya dimasukkan dalam Nama sebuah surat
dalam Al-Qur’an, akan tetapi berkat sifat kebijaksanaan yang dia miliki
sehingga Allah memasukkan namanya kedalam sebuah nama surat dalam Al-Qur’an.
a. Biografi Luqman Al-Hakima
Luqman Al-Hakim adalah anak
dari Bau’ra bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar
ayah Nabi Ibrahim a.s. Luqman Al-Hakim hidup selama 1000 tahun. Ia meupakan
guru dari Nabi Daud a.s. sebelum diangkat menjadi Nabi. Pekerjaan awalnya
adalah tukang kayu, tukang jahit, dan penggembala domba. Ia kemudian diangkat
menjadi qadhi (Hakim). Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi
semua anaknya meninggal dunia ketika masih kecil. Semua itu ia terima dengan
ikhlas, karena ia yakin dan sadar bahwa semua yang terjadi adalah atas
kehemndak Allah Swt.
Demikian biografi singkat
tentang Luqman Al-Hakim yang namanya dimuliakan sebagai salah satu nama surat dalam
Al-Qur’an yakni Surat Luqman surat ke 31.
b. Nasihat Luqman kepada
Anaknya
Keteladanan orang tua sangat berpengaruh penting bagi pendidikan akhlaq,
seorang anak yang masih kecil pasti akan meniru kebiasaan-kebiasaan yang
dilakukan oleh orang tuanya, oleh karena itu seorang figur Luqman Al-Hakim
hadir sebagai tokoh tauladan bagi para orang tua dan para pendidik untuk dapat
meneladani dan mengambil pelajaran dari Nasihat-Nasihat Luqman Al-Hakim yang diberikan
kepada anaknya.
Berikut adalah beberapa wejangan yang diberikan Luqman Al-Hakim kepada
Anaknya sebagaimana tersirat dalam Al-Qur’an dalam Surat Luqman:13-19
1. Mengajari anak tentang
Ketauhidan dan Menjauhi Dosa Syirik.
وَاِذْقَالَ لُقْمٰنُ
لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يٰبُنَيَّ لَاتُشْرِكْ بِااللهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ
لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ﴿١۳﴾
“Dan
(Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (Luqman: 13)".
Allah
mengingatkan kepada Rasulullah nasihat yang pernah diberikan Luqman kepada
putranya ketika ia memberi pelajaran kepadanya. Nasihat itu ialah “Wahai
anakku, janganlah engkau mempersekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan Allah itu adalah kedzaliman yang sangat besar”.
Mempersekutukan
Allah dikatakan kedzaliman yang sangat besar karena perbuatan itu berarti
menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang
melimpahkan nikmat dan karunia dengan sesuatu yang tidak sanggup memberikan
semua itu. Menyamkan Allah sebagai sumber nikmat dan karunia dengan
patung-patung yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah perbuatan dzalim.
Perbuatan itu dianggap sebagai kedzaliman yang besar karena yang disamakan
dengan makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa itu adalah Allah Pencipta dan Penguasa semesta alam, yang seharusnya semua makhluk
mengabdi dan menghambakan diri kepada-Nya.
Dalam
ayat ini dipahami bahwa diantara kewajiban ayah kepada anaknya ialah member
nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya dapat menempuh jalan yang benar,
dan terhindar dari kesesatan. Hal in sesuai dengan firman Allah Swt.
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْاَنْفُسَكُمْ وَ اَهْلِيْكُمْ نَارًا
وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ﴿٦﴾
“Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;” (At-Tahrim:6)
2. Berbuat baik kepada
Orang Tua dan Memperlakukannya dengan Baik
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهُ وَهْنًا عَلٰى
وَهْنٍ وَّفِصٰلُهُ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ شْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ
الْمَصِيْرُ ﴿١٤﴾
Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada
dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)”
وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا
تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ
اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُوْنَ ﴿١٥﴾
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan
Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu
mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka
Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. (Luqman: 15)”
Dalam ayat, ini Allah memerintahkan kepada manusia agar
berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha melaksanakan
perintah-perintahnya dan mewujudkan keinginannya. Allah juga memerintahkan yang
demikian, dalam firmannya
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّاتَعْبُدُوْا اِلَّا اِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًا﴿٢٣﴾
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan
supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada
ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra’: 23)”
3. Memberi Pemahaman
Bahwa Segala Amalan Manusia
akan Di Pertanggug Jawabkan Diakhirat
يٰبُنَيَّ اِنَّهَا اِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِيْ
صَخْرَةٍ اَوْفِى السَّمٰوٰتِ اَوْ فِى الْاَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللهُۗ اِنَّ اللهَ
لَطِيْفٌ خَبِيْرٌ ﴿١٦﴾
“(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu
perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di
dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya
Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui. (Luqman: 16)”
Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang kita kerjakan
selama di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, sekecil apapun
amalan yang kita lakukan baik itu merupakan amalan yang baik maupun amalan yang
buruk, pasti akan mendapatkan balasannya, hal ini senada dengan firman Allah
swt dalam QS. Al-Zalzalah: 7-8
وَمَنْ يَعْمَلْ
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْىرًا يَّرَهُ ﴿٧﴾ وَمَنْ يعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
شَرًّايَّرَهُ ﴿۸﴾
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan
sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah: 7-8)”
Luqman berwasiat kepada
anaknya agar beramal dengan baik karena apa yang dilakukan manusia dari yang
besar sampai yang sekecil-kecilnnya, yang tampak dan yang tidak tampak, yang
terlihat dan yang tidak tersembunyi, baik di langit maupun di bumi, pasti
diketahui Allah. Oleh karena itu, Allah pasti akan meberikan balasan yang
setimpal dengan perbuatan manusia itu. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga,
sedang perbuatan jahat dan dosa akan dibalas dengan neraka. Pengetahuan Allah
meliputi segala sesuatu dan tidak ada yang luput sedikitpun dari
pengetahuan-Nya.
4. Mengajarkan Tentang Shalat dan Amar Ma’uf Nahi Munkar
يٰبُنَيَّ اَقِمِ الضَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ
الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَا اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْعُمُوْرِ
﴿١٧﴾
“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal
yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqman: 17)
Pada ayat ini Luqman
mewasiatkan kepada anaknya hal-hal berikut:
a) Selalu
mendirikan shalat dengan sebaik-baiknya, sehingga diridhai Allah.
Jika
shalat yang dikerjakan itu diridhai Allah, perbuatan keji dan perbuatan mungkar
dapat dicegah, jiwa menjadi bersih tidak ada kekhawatiran terhadap diri orang
itu, dan mereka tidak akan bersedih hati jika ditimpa cobaan, dan merasa dirinya
semakin dekat dengan Tuhannya.
اُعْبُدُوا اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ
تَرَكَ. (رواه البخاري و مسلم)
Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika
engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau (HR. Bukhori
dan Muslim).
b) Berusaha mengajak
manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang diridhai Allah, berusaha
membersihkan jiwa dan mencapai keberuntungan, serta mencegah mereka agar tidak
mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Allah berfirman.
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰهَاۖ﴿٩﴾ وَقَدْخَابَ مَنْ دّسّٰهَاۗ﴿١٠﴾
“Sesungguhnya
beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang
mengotorinya. (asy-Syams: 9-10)
c) Selalu bersabar dan
tabah terhadap segala macam cobaan yang menimpa, akibat dari mengajak manusia
berbuat baik dan meninggalkan perbuatan yang mungkar, baik cobaan itu dalam
bentuk kesenangan dan kemegahan, maupun dalam bentuk kesengsaraan dan
penderitaan.
5. Mengajarkan tentang perilaku rendah hati dan tidak sombong, serta sedehana dalam
berjalan dan tidak mengeraskan suara
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ
اللهَ لَايُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ﴿١۸﴾
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia
(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan
diri. (Luqman: 18)”
وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَالْاَصْوَاتِ
لَصَوْتُ الْحَمِيْرِۚ ﴿١٩﴾
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan
lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
(Luqman: 19)
Ayat ini menerangkan lanjutan wasiat Luqman kepada
anaknya, yaitu agar anaknya berbudi pekerti yang baik, dengan cara:
1. Jangan sekali-kali
bersifat angkuh dan sombong, membanggakan diri dan memandang rendah orang lain. Tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong
adalah:
Ø
Bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia
memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah.
Ø
Berjalan dengan sikap angkuh, seakan-akan ia yang
berkuasa dan yang paling terhormat. Firman Allah:
وَلَاتَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ
الْجِبَالَ طُوْلًا
“Dan
janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya
engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi
gunung. (Al-Isra’: 37).”
2. Hendaklah berjalan
secara wajar, tidak dibuat-buat dan kelihatan angkuh atau sombong, dan lemah
lembut dalam berbicara, sehingga orang yang melihat dan mendengarnya merasa
senang dan tenteram hatinya.
Berbicara dengan sikap
keras, angkuh dan sombong dilarang Allah karena gaya bicara yang semacamnya itu
tidak enak didengar, menyakitkan hati dan telinga. Hal itu diibaratkan Allah
dengan suara keledai yang tidak nyaman didengar.
Demikanlah beberapa nasihat-nasihat penting Luqman
Al-Hakim yang diajarkan kepada anaknya,
seorang ayah yang sangat peduli terhadap nasib anaknya tidak hanya
memperhatikan nasib anaknya didunia saja akan tetapi dia juga sangat peduli
terhadap nasib anaknya diakhirat, seorang ayah yang sangat peduli terhadapa
kehidupan anaknya di masa yang akan datang, yang nantinya anak ini akan tumbuh
menjadi manusia yang beradab, mengetahui mana perkara yang haq dan mana perkara
yang bathil, serta sanggup mengemban amanah Allah sebagai Khalifah Fil Ardh
untuk menjaga kehidupan dunia dari keburukan-keburukan sifat tercela.
Mudah-mudahan hal ini dapat mejadi contoh bagi kita semua
khususnya bari para orang tua yang menginginkan anak yang sholeh, untuk
senantiasa memperhatikan pendidikan anaknya dalam bidang akhlaqul karimah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar